Ketika Rumput Laut Jadi Masa Depan Industri Ramah Lingkungan

Rabu, 27 Juli 2016 - 10:03:13 WIB | Oleh : Administrator | Kategori : Berita | Dibaca: 260 kali

Lobi dalam Hotel Hermitage, selain furniture asli dari zaman dahulu. Bangunan hotel ini masih mempertahankan arsitektur aslinya. (Yunaidi/National Geographic Traveler Indonesia)

Studio desain di Delft, Belanda, Nienke Hoogvliet memproduksi barang tekstil dan furnitur dari rumput laut, sebuah kontribusi untuk industri ramah lingkungan.
Studio desain berbasis di Delft, Belanda, Nienke Hoogvliet memproduksi barang-barang tekstil dan furnitur dari rumput laut.

Cara Nienke memvisualisasikan bagaimana rumput laut dapat menjadi bagian dari rumah di masa depan dituangkan dalam sebuah buku berjudul SEAWEED RESEARCH by Studio Nienke Hoogvliet.

Setelah proyek Nienke SEA ME, yaitu karpet buatan tangan yang diikat dengan benang rumput laut dan jaring nelayan, Nienke melanjutkan penelitiannya.

Ia menemukan, rumput laut dapat berkontribusi untuk industri tekstil yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Dengan dana dari Stimuleringsfonds Creatieve Industrie, dia bisa meneliti tidak hanya bagaimana benang berkelanjutan ini dapat digunakan dalam industri tekstil, tetapi juga dalam cara lain.

Nienke bekerja menciptakan proses melingkar untuk secara optimal menggunakan rumput laut. Limbah dari satu proses yang digunakan untuk proses lainnya, berakhir dengan nirlimbah.

Nienke menemukan rumput laut ini bahkan lebih potensial dari yang diharapkan. Pasalnya, rumput laut menawarkan pewarna alami berbagai macam warna.

Rumput laut bahkan bisa mewarnai tekstil menjadi hijau, cokelat, abu-abu, merah muda dan ungu tergantung jenis rumput laut yang digunakan.

Tidak hanya itu, warna-warna yang dihasilkan dari rumput laut juga tahan luntur meski dipapar cahaya dan terbukti memenuhi syarat ramah lingkungan.

Untuk menunjukkan potensi bahan-bahan ini, Nienke merancang kursi dan meja. Ia membuat tempat duduk yang terbuat dari benang rumput laut dan dicelup secara alami dengan rumput laut.

Kemudian, benang ini ditenun dengan tangan untuk menjadi tempat duduk lembut. Sisa dari proses ini digunakan untuk membuat cat biasa untuk meja. Sementara limbah dari pewarna ini digunakan untuk membuat mangkuk bio-plastik.

(Arimbi Ramadhiani / Kompas.com)